Volley dan Sepak Bola Tunanetra

Mendengar istilah sepak bola atau bola volley mungkin yang terlintas di kepala kita adalah pemain-pemain ganteng bertampang model yang berlarian di lapangan sambil memperebutkan bola. Gegap gempita kedua olahraga ini begitu luar biasa. Sulit sekali untuk melewatkan menyaksikan ataupun ikut memainkannya. Lalu bagaimana dengan kawan-kawan tunanetra kita? Bagaimana kalau mereka bukan saja penikmat tontonan olah raga tersebut? Bagaimana jika mereka memainkannya?

Sejak kapan munculnya sepak bola tunanetra sendiri masih belum diketahui, akan tetapi saat ini di dunia maupun di Indonesia sepak bola tunanetra sudah mulai dimainkan. Untuk tingkat dunia pertama kali diadakan turnamen sepak bola tunanetra di Brazil pada tahun 1980, selain itu sepak bola tunanetra sudah dimainkan di berbagai negara seperti Spanyol, Jerman, Brazil, Inggris, Yunani, dan masih banyak lagi. Menurut Mumun, salah seorang tunanetra yang juga memainkan sepak bola tunanetra sejak tahun 2002, “peraturan resmi untuk sepak bola tunanetra disosialisasikan pertama kali oleh Organisasi Olahraga Tunanetra Indonesia pada tahun 2007, bertepatan dengan digelarnya pertandingan persahabatan PORTI di Bandung. Sebelumnya peraturan yang digunakan hanya dari pengetahuan yang dimiliki oleh pemain dan diteruskan dari generasi ke generasi,” begitu tuturnya.

Untuk sepak bola sendiri, pemain berjumlah 7 orang terdiri dari 3 pemain low vision dan 4 pemain total (red. tunanetra total). Satu orang low vision bertugas sebagai penjaga gawang sementara yang dua lainnya bertugas sebagai pengumpan. Pemain total bertugas sebagai penyerang dengan mata ditutup kain hitam. Berbeda dengan sepak bola awas, waktu yang digunakan pada sepak bola tunanetra adalah 2 x 30 menit dengan tambahan waktu (jika diperlukan) 1 x 10 menit. Lapangan yang digunakan pun bukan lapangan sepak bola pada umumnya melainkan lapangan futsal, mengingat jumlah pemain yang sedikit dan keterbatasan dalam bergerak. Untuk menyiasati agar pemain total mengetahui posisi gawang ketika menyerang, maka di bagian tengah belakang setiap gawang ada petugas yang membuat bunyi-bunyian sepanjang permainan berlangsung sehingga pemain total bisa melakukan serangan secara tepat.

Sedangkan menurut Surono, orang yang sudah lima tahun ini menjadi wasit permainan volley tunanetra, “bola volley tunanetra mulai dimainkan di Indonesia sekitar 5 tahun yang lalu. Peraturan yang diterapkan menggunakan peraturan yang saya pelajari ketika berada di Jepang.”¬† Surono menjelaskan pemain berjumlah 6 orang dengan 3 pemain low vision dan 3 pemain total. Tidak seperti pada volley awas, posisi servent volley tunanetra dilakukan bergantian dari pemain total terlebih dahulu dilanjutkan oleh pemain low vision. Tidak berputar searah jarum jam melainkan hanya menempati posisi servent lalu kembali ke posisi semula. Pemain total berada di depan net dengan posis duduk atau jongkok, sementara pemain low vision berada di belakang untuk menjaga agar bola tidak masuk dengan posisi berdiri tanpa boleh menggunakan kaki. Net ditempatkan tidak jauh dari tanah hanya berjarak sekitar 20 cm. Sementara bola yang digunakan baik untuk volley maupun sepak bola adalah bola plastik yang dilubangi lalu diisi gotri (pentil) dengan jumlah sesuai kebutuhan (red. biasanya diisi 10 buah) agar timbul bunyi ketika bola menggelinding.

Mumun menuturkan “saat ini belum ada kompetisi atau turnamen untuk volley maupun sepak bola tunanetra di Indonesia. Sementara ini pertandingan yang ada hanya pertandingan persahabatan antar organisasi atau lembaga tunanetra. Kami berharap pemerintah bisa menyediakan tempat pelatihan khusus bagi volley dan sepak bola tunanetra, sehingga pada lebih lanjut kami juga bisa disalurkan untuk turnamen-turnamen tunanetra baik dalam negeri maupun internasional. Kami berharap kegiatan ini bisa memajukan tunanetra dan menunjukkan kepada masyarakat eksistensi kami, serta membuktikan bahwa kami juga memiliki kemampuan dalam bidang olahraga.” Ia menambahkan “jika kami bisa ikut turnamen internasional tentunya kami punya kesempatan untuk mengharumkan nama bangsa seperti atlit awas lainnya.”

Senada dengan Mumun, Surono menambahkan, “Kami sebagai orang awas yang terjun di dunia tunanetra juga mengharapkan volley dan sepakbola tunanetra bisa berkembang pesat. Pemerintah bisa memfasilitasi mengingat hal ini bisa menajdi sarana menyalurkan kemampaun. Di lapangan, kami melihat semangat dan antusiasme pemain yang luar biasa, sayang jika tidak dikembangkan dan disalurkan. Semoga volley dan sepak bola tunanetra bisa dibawa ke ajang nasional, lebih lagi internasional.” Semoga..

(Pernah diterbitkan di http://bpbiabiyoso.depsos.go.id/)

Tagged: , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: