Economic Model of Disability

Beberapa pekan yang lalu, saya ditugaskan untuk menyaksikan sebuah video di youtube. Seperti minggu-minggu sebelumnya, tugas pekan itu salah satunya adalah menyaksikan video tersebut dan memberi komentar. Video yang saya saksikan tersebut menampilkan seorang tokoh feminis berpengaruh di Australia bernama Eva Cox.

Dalam video tersebut, Eva Cox membahas tentang sebuah teori yang jujur belum pernah saya dengar. Ia bercerita tentang model ekonomi yang sering digunakan oleh banyak pembuat kebijakan di berbagai Negara. Saat itu saya bingung. Saya pikir teori ekonomi yang ia sampaikan hanya merupakan turunan dari sistem ekonomi.

Hari ini, ketika saya sedang membaca sebuah artikel sebagai bahan tugas akhir semester ini, saya menemukan teori yang sama seperti yang disampaikan Eva Cox. Bacaan tersebut membuat saya mengerti kenapa Eva Cox merasa perlu membahas teori itu, kenapa saya perlu menyaksikan bahasan teori tersebut. Teori tersebut dinamakan Economic Model of Disability. Persis seperti apa yang disampaikan Eva Cox, yang ketika pertama kali menyaksikannya saya sama sekali tidak paham.

Economic Model of Disability menganut paham di mana orang dengan disabilitas secara metodologi dianggap pembuangan ekonomi dalam masyarakat. Yang dimaksud pembuangan ekonomi di sini adalah di mana pemberdayaan orang dengan disabilitas dilihat sebagai kesia-siaan. Menurut model ini, tidak mungkin seorang disabilitas bisa berkontribusi positif bagi masyarakat. Menyakitkan mendengarnya, tetapi inilah paham yang dianut model ini.

Dalam videonya, Eva Cox menjelaskan bahwa penggunaan economic Model of Disability menyebabkan manusia menilai segala sesuatu secara ekonomi. Dalam artian, segala sesuatu dinilai dengan angka. Akibatnya, masyarakat kehilangan sumber daya social. Padahal sumber daya social ini yang membuat orang-orang di pelosok desa saling bantu-membantu ketika membangun rumah, atau ketika menikahkan anak mereka. Economic Model of Disability ini yang membuat kita kehilangan budaya gotong-royong, budaya tolong-menolong. Padahal budaya inilah yang menjadikan manusia mampu bertahan menghadapi seleksi alam. Manusia merupakan makhluk social yang tidak bisa hidup tanpa orang lain. Tetapi ketika manusia mulai menilai segala sesuatu secara ekonomi, maka sesungguhnya manusia kehilangan kekuatannya.

Menurut Groce, ketika economic model of disability digunakan, ketika orang dengan disabilitas dianggap tidak mampu memberikan kontribusi positif bagi masyarakat, maka pada akhirnya dana dan usaha yang dikucurkan untuk memberdayakan orang dengan disabilitas akan jauh berkurang, bahkan mungkin tidak ada sama sekali. Saya tidak akan menyampaikan akibatnya, silakan bayangkan sendiri.

Masih banyak yang bisa saya angkat tentang tema kali ini, tetapi karena saya sendiri sedang terjebak duedate, sementara ini dulu yang bisa saya sampaikan.

References:

Groce, NE, 1999, ‘Guest editorial: framing disability issues in local concepts and beliefs’, International Health Division, Yale School of Public Health.

Eva Cox_More Civil Society

Tagged: , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: